Selasa, 22 Desember 2015

Softskill Bahasa Indonesia 2

Analisis Jurnal Akuntansi 1


Judul
PENGARUH PENERAPAN PENGENDALIAN INTERNAL TERHADAP PENCEGAHANFRAUD PENGADAAN BARANG
Penulis
Hermiyatti
Reviewer
Gita Febria Ramadani (23213752)
Kelas
3EB11

Tujuan Penelitian
Bertujuan menganalisis dampak pengendalian internal dalam pencegahan kemungkinan penyimpangan dalam proses pelelangan.

Teori yang digunakan
1.     1. Konsep Pengendalian Internal

·         Pengendalian internal dapat digunakan untuk:
- Menjaga keamanan harta milik perusahaan
2.     Memberikan keyakinan bahwa laporan- laporan yang disampaikan  kepada pimpinan adalah benar
3.     -  Meningkatkan efisiensi usaha
- Memastikan bahwa kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan oleh pimpinan telah dijalankan dengan baik.

2.    2.  Konsep Pencegahan Fraud Pengadaan Barang      
Menurut Pope (2007) pencegahan fraud dalam dalam hal pengadaan barang public, antara lain :
              
·         pertama, memperkuat kerangka hukum. Alat yang paling ampuh adalah menyingkapkannya kepada publik. Media dapat memainkan peran penting untuk menciptakan kesadaran publik mengenai masalah ini dan untuk membangun dukungan bagi langkah-langkah yang perlu diambil.
·         Kedua, prosedur transparan. Selain dari kerangka hukum, pertahanan berikutnya melawan fraud adalah prosedur dan praktik yang terbuka dan transparan untuk melaksanakan proses pengadaan barang itu sendiri.
·         Ketiga, membuka dokumen tender.Satu kunci untuk mewujudkan transparansi dan sikap tidak memihak adalah pem-beli membuka dokumen tender pada waktu dan di tempat yang telah ditetapkan, di hadapan semua pengikut tender atau wakil-wakil mereka yang ingin hadir.
·         Keempat, evaluasi penawaran. Evaluasi
penawaran adalah langkah yang paling sulit dalam proses pengadaan barang untuk dilaksanakan secara benar dan adil.
·         Kelima, melimpahkan wewenang. Prinsip peninjauan ulang dan audit independen sudah diterima luas sebagai cara untuk menyingkapkan kesalahan atau manipulasi dan memperbaikinya.
·         Keenam, pemeriksaan dan audit independen. Tinjauan-ulang dan audit independen memainkan peran yang sangat penting.

Pengembangan Hipotesis
Berdasarkan identifikasi masalah dan kerangka pemikiran yang telah diuraikan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh pada penerapan lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan baik secara parsial maupun simultan terhadap pencegahan fraud pengadaan barang.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuesioner.
Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian ini antara lain bahwa terdapat dampak dari pengendalian internal dalam pencegahan penyimpangan dalam proses pelelangan. Artinya bahwa risiko penyimpangan dalam proses pelelangan dapat ditekan dengan adanya sistem pengendalian internal yang baik dan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak secara langsung terkait dengan model penelitian ini.
Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka peneliti dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pada penerapan lingkungan pengendalian, penilaian resiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi serta pemantauan baik secara parsial maupun simultan terhadap pencegahan fraud pengadaan barang.




Komentar :
Menurut pendapat saya, jurnal yang berjudul PENGARUH PENERAPAN PENGENDALIAN INTERNAL TERHADAP PENCEGAHAN FRAUD PENGADAAN BARANG” ini isi nya mudah di cerna pembaca, tidak terlalu banyak kosa kata sulit, di lengkapi pula dengan diagram variable, dan pemaparan konsep yang sesuai dengan tujuan penulisan, sehingga mendukung hasil penelitian yang akurat.






















Analisis Jurnal Akuntansi 2

Topik
EARNINGS MANAGEMENT, VALUE RELEVANCE OF EARNINGS AND BOOK VALUE OF EQUITY
Volume & Halaman
Vol.14 No. 2 , Hal 213 - 232
Tahun
2010
Penulis
Imam Subekti
Reviewer
Gita Febria Ramadani (23213752)
Kelas
3EB11

Tujuan Penelitian
Meneliti pengaruh dari earnings management yang dilakukan secara terintegrasi dengan analisis faktor pada relevansi nilai earnings dan nilai buku ekuitas (book value of equity).
Teori yang digunakan
1.     1.  Nilai Relevansi Informasi akuntansi
Penelitian hubungan antara akuntansi informasi dan pasar saham kinerja telah berkembang terus menerus. Kemampuan akuntansi informasi  untuk menjelaskan nilai perusahaan berdasarkan nilai pasar secara luas dikenal sebagai nilai relevansi akuntansi informasi. Baru-baru ini penelitian tentang nilai relevansi akuntansi informasi telah dikembangkan untuk mencangkup semua unsur laporan keuangan seperti neraca, laporan laba rugi, dan arus kas dari operasi (Ohlson, 1995; Feltham dan Ohlson, 1995).

Ada dua jenis model penelitian umumnya diterapkan untuk menyelidiki hubungan antara :
·         Model harga untuk nilai relevansi akuntansi informasi
·         Model harga dan model kembali

Ota (2001 ) dan Gu ( 2004) mengungkapkan bahwa model kembali memiliki spesifikasi masalah yang serius ' akuntansi pengakuan lag 'dan ' pendapatan sementara ' . Pengakuan akuntansiLAG timbul dari kenyataan bahwa akuntans isistem melaporkan efek dari nilai yang relevanPeristiwa dengan lag karena prinsip akuntansiseperti keandalan , objektivitas , dan konservatisme. Pendapatan sementara adalah komponen laba yang tidak gigih seperti laba komponen permanen, dan karena itu,memiliki hubungan dengan hasil yang lemah. Menyelidiki hubungan antara akuntansi informasi dan nilai perusahaan melalui harga saham telah dilakukan untuk terakhir tahun lalu di ( negara maju ) Baratseperti Collins et al . (1997 ) ; Brown et al .(1999 ) ; Bekaoui dan Picur (2001 ) ; Hirschey etal . (2001 ) ; Hitam dkk . ( 2000) ; Whelan danMcNamara ( 2004) .
Collins et al . (1997 ) digunakan valuasi Kerangka disediakan oleh Ohlson (1995 ) , yang mengungkapkan harga sebagai fungsi dari kedua laba dan nilai buku ekuitas . Perkiraan studi regresi cross- sectional tahunan untuk 41 tahun mencakup periode 1953-1993 dan menggunakan R2 sebagai metrik utama untuk mengukur nilai relevansi . Kemudian , mereka menguraikan penjelasan gabungan kekuatan laba dan nilai buku menjadi tiga komponen ;
( 1) jelas inkremental kekuatan laba ,
( 2 ) incremental kekuatan penjelas dari nilai buku , dan
( 3 ) kekuatan penjelas umum untuk kedua laba dan nilai buku .

Tujuan dari membusuk yang adalah untuk menguji apakah laba dan nilai buku bertindak sebagai pengganti untuk satu sama lain dalam menjelaskan harga .

2.    2.  Manajemen Laba dan Nilai Relevansi Laba dan Nilai Buku
Hubungan antara nilai relevansi akuntansi informasi dan manajemen laba mampu dijelaskan melalui laba kualitas. Lo (2007 ) berpendapat bahwa manajemen laba terkait dengan kualitas laba . Lo(2007 ) juga menyatakan bahwa sangat berhasil laba memiliki kualitas yang rendah . Ini berarti bahwa pendapatan tindakan manajemen akan mengurangi pendapatan kualitas yaitu keandalan pendapatan . relevansi informasi akuntansi dalam penilaian dari suatu perusahaan dapat dipengaruhi oleh wawasan pasar dari keandalan informasi ( Whelan danMcNamara , 2004) . Dugaan kurangnya pendapatan keandalan memiliki konsekuensi di pasar inklusi ketergantungan kurang pada pendapatan di bursa proses penilaian . Itu berarti bahwa pendapatan tindakan manajemen mempengaruhi nilai relevansi laba negatif .Studi tentang hubungan antara relevansi nilai informasi akuntansi dan manajemen laba masih perlu dilakukan secara terus menerus dengan lebih mendalam investigasi dalam pandangan berbagai kritik tentang model manajemen laba. Namun, Penelitian ini diarahkan mencari bukti manajemen laba menderita dari sejumlah keterbatasan berkaitan dengan masalah metodologi. Oleh karena itu, penelitian ini mampu menjembatani kesenjangan.

3.  Manajemen Laba Terpadu  dan Hubungan Nilai Revaluasi Akuntansi Informasi
Laba terpadu model pengelolaan Ide ini diperkenalkan oleh Leuz, dkk. (2003). Para peneliti menggabungkan antara laba smoothing nilai dan kebijaksanaan yang dilaporkan laba (akrual diskresioner). Prosedur kombinasi ini rata-rata dari peringkat mencetak gol dari setiap pengukuran. Jenis pengukuran manajemen laba dan formula pengukuran adalah:
·         Smoothing dilaporkan laba menggunakan akrual operasi;
·         Smoothing dan korelasi antara perubahan akrual akuntansi dan operasi arus kas;
·         Kebijaksanaan laba yang dilaporkan: besarnya akrual;
·         Kebijaksanaan di laba yang dilaporkan: penghindaran kerugian kecil

Penelitian ini mengintegrasikan antara manajemen laba nyata, jangka pendek dan jangka panjang akrual manajemen laba. Itu manajemen laba nyata adalah manipulasi kegiatan operasi real yang dilakukan oleh manajemen yang menyimpang dari bisnis normal praktek, yang dilakukan dengan tujuan utama memenuhi ambang batas pendapatan tertentu (Roychowdhury, 2006).
Tujuan dari manajemen laba berdasarkan kegiatan manipulasi adalah mendeteksi nyata manipulasi kegiatan operasi sekitar laba batas nol. Kesegaran model ini telah diperiksa menunjukkan kegiatan nyata yang normal antara perusahaan-tahun melaporkan laba tahunan kecil mencerminkan laba manajemen untuk menghindari kerugian atau tanggapan optimal untuk berlaku keadaan ekonomi.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah prosedur sampling dan data.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa earnings dan nilai buku ekuitas bersifat relevan dalam mengukur nilai pasar perusahaan, dan earnings management yang terintegrasi menurunkan nilai relevansi earnings dan nilai buku ekuitas.
Kesimpulan
 Penelitian ini mencoba untuk menyesuaikan dan mengintegrasikan manajemen laba model yang ada model. penyesuaian tersebut pengganti salah satu variabel dari model regresi digunakan untuk menghitung indeks manajemen laba. itu variabel adalah 1/At-1 diganti dengan 1/Log. At-1. Penyesuaian tersebut mampu meningkatkan jelas kekuatan estimasi manajemen laba

Komentar :
Menurut saya, pada jurnal yang memiliki topik ‘’EARNINGS MANAGEMENT, VALUE RELEVANCE OF EARNINGS AND BOOK VALUE OF EQUITY’’ ini memiliki susunan dan pilihan kata yang cukup rumit serta butuh  penalaran yang lebih teliti untuk mencerna isi dari jurnal ini, sehingga agar dapat mengerti pembahasan nya, butuh waktu berulang kali membacanya untuk mendapatkan intisari-intisari hasil bacaan tersebut.



















Global Warming

Kita merasakan perbadaan suhu udara antara dahulu dan sekarang. Dulu, suhu rata-rata di bumi tidak ekstrim seperti sekarang yang kita rasakan, panas yang begitu menyengat merupakan salah satu contoh nyata yang paling kita rasakan akibat global warming. Hal ini terjadi akibat semakin menipisnya ozon, lapisan pelindung bumi dari sinar langsung matahari yang ada di athmosphere bumi. Pada dasarnya lapisan ozon yang ada sangatlah tipis sehingga akan semakin mudah terkikis dan berlubang. 
Naiknya suhu rata-rata permukaan bumi dapat menyebabkan efek yang sangat berbahaya bagi kita, Global wrming menyebabkan musim kemarau yang panjang dan tak diduga-duga kapan datangnya.

Selain menyebabkan kekacauan iklim, global warming menyebabkan naiknya volume permukaan air laut. Efek panas yang ditimbulkan oleh global warming menyebabkan gunung-gunung es di kutub utara dan selatan meleleh, dan lelehan tersebut yang menambah volume permukaan laut serta berakibat pulau-pula kecil dan lebih rendah dari permukaan laut tenggelam.
 
Masih banyak dampak yang bisa ditimbukan dari global warming. Menipisnya lapisan ozon ini sebenarnya juga merupakan ulah dari umat manusia itu sendiri, seperti pemborosan litrik, efek rumah kaca, polusi udara yang disebabkan bahan bakar setiap kendaraan, polusi udara dari industry dan pabrik, hutan gundul karena karbondioksida merupakan penyebab penigkatan pemanasan global .
Kita bisa membantu meminimalisir terjadinya kerusakan yang lebih parah pada lapisan ozon, dengan mencegah polusi udara, mengurangi penggunaan listrik yang tidak terlalu penting seperti mengurangi penggunaan AC yang berlebihan, tidak menebang dan membakar pohon secara berkala, dan melakukan penghijauan minimal di sekitar pekarangan rumah.
Sumber :


Kamis, 19 November 2015

SINTAKSIS B.INDONESIA



1.      Pengertian Sintaksis

a. Pengertian Secara Etimologi
Kata sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti ’dengan’ dan kata tattein yang berarti ’menempatkan’. Jadi, secara etimologi berarti: menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Selain dari bahasa Yunani, sintaksis juga berasal dari bahasa Belanda yaitu syntaxis. Sintaksis juga berasal dari bahasa Inggris yaitu syntax. Istilah sintaksis (Belanda, Syntaxis) ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan tentang seluk beluk wacana , kaliamat, prase dan klausa.

2. Lingkup Cakupan Sintaksis
Cakupan Sintaksis meliputi frasa, klausa, kalimat, dan wacana

3. Hubungan antara Frasa, Klausa dan Kalimat

Klausa merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih yang mengandung unsur predikasi, sedangkan frasa adalah satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak mengandung unsur predikasi.

4. Pengertian Frasa, Klausa dan Kalimat

a. Pengertian Frasa
Frasa adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang merupakan satu kesatuan dan menjadi salah satu unsur atau fungsi kalimat (subjek, predikat, objek, atau keterangan).
b. Pengertiaan Klausa
klausa adalah gabungan dari beberapa kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat, boleh dilengkapi (objek), (pelengkap), dan (keterangan).
c. Pengertian kalimat
Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap merupakan definisi umum yang biasa dijumpai. Dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil (kata,frase,dan klausa) kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konsituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjugsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final.
5. Ciri-ciri Frasa, Klausa dan Kalimat

a. Ciri-ciri Frasa
- terdiri atas dua kata atau lebih yang berhubungan dan membentuk suatu kesatuan
-tidak bersifat predikatif
- tidak berciri klausa
- merupakan unsur pembentuk klausa
-menempati salah satu unsur atau fungsi dalam kalimat.

b. Ciri-ciri Klausa, yaitu:
- terdiri atas S dan P baik disertai O, Pel, K maupun tidak,
- unsur klausa berupa S dan P,
- unsur utama klausa adalah P karena S dapat dilesapkan,
- mempunyai rumus (S) P, (O) (Pel).

c. Ciri-ciri Kalimat
- Sebagai satuan bahasa atau satuan gramatikal;
-Terdiri atas satu kata atau lebih (tidak terbatas)/terdiri atas klausa;
- Secara relatif dapat berdiri sendiri;
- Memiliki atau mengandung pikiran yang lengkap;
- Mempunyai pola intonasi akhir;
- Dalam konvensi tulis, ditandai oleh awal huruf capital dan diakhiri tanda baca (tanda titik untuk kalimat deklaratif, tanda tanya untuk kalimat interogatif, dan tanda seru untuk kalimat interjektif).

6. Macam-macam Frasa, Klausa dan Kalimat

a. Jenis-jenis Frase
1) Frase endosentrik : Frase endosentrik yang koordinatif, Frase endosentrik yang atributif, Frase endosentrik yang apositif

2) Frase Eksosentrik

3) Frase Nominal, frase Verbal, frase Bilangan, frase Keterangan.
a) Frase Nominal, contoh: baju baru, rumah sakit
b)Frase Verbal, contoh: akan berlayar
c) Frase Bilangan, contoh: tiga butir telur, sebelas keping
d) Frase Keterangan, contoh: besok siang, tadi sore

4) Frase Depan, contoh : di halaman sekolah

5) Frase Ambigu
Frase ambigu artinya kegandaan makna

Berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P, klausa dapat diklasifikasikan menjadi :
a) Klausa Nomina ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa nomina.
Contoh : Dia seorang sukarelawan.
b) Klausa Verba ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa verba.
Contoh : Dia membantu para korban longsor.
c) Klausa Adjektiva ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa adjektiva.
Contoh : Kakaknya sangat kurus.
d) Klausa Numeralia ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori numeralia.
Contoh : Anaknya tiga ekor.
e) Klausa Preposisiona ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa preposisiona.
Contoh : bola itu dibawah kursi.
f) Klausa Pronomia ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategoi ponomial.
Contoh : Hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah
 Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat
Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat dapat dibedakan atas :
a) Klausa Bebas ialah klausa yang memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor. Jadi, klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut.
Contoh : Anak itu badannya panas, tetapi kakinya sangat dingin.
b) Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor.
Contoh : Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum.
 Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat.
Menurutnya klausa juga dapat diklasifikasikan berdasarkan kriteria tatarannya dalam kalimat.
a) Klausa Atasan ialah klausa yang tidak menduduki f ungsi sintaksis dari klausa yang lain.
Contoh : Ketika paman datang, kami sedang belajar.
b) Klausa Bawahan ialah klausa yang menduduki fungsi sintaksis atau menjadi unsur dari klausa yang lain.
Contoh : Dia mengira bahwa hari ini akan hujan.

Jenis-jenis kalimat
1) Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti pembentukan kalimat (subjek dan predikat) dan boleh diperluas dengan salah satu atau lebih unsur-unsur tambahan (objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru.
Kalimat Tunggal Susunan Pola Kalimat
Ayah merokok. S-P
Adik minum susu. S-P-O
Ibu menyimpan uang di dalam laci S-P-O-K
2) Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk dapat terjadi dari:
a) Sebuah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sedemikian rupa sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat baru, di samping pola yang sudah ada.
Misalnya: Anak itu membaca puisi. (kalimat tunggal)
Anak yang menyapu di perpustakaan itu sedang membaca puisi.
(subjek pada kalimat pertama diperluas)
b) Penggabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih pola kalimat.
Misalnya: Susi menulis surat (kalimat tunggal I)
Bapak membaca koran (kalimat tunggal II)
Susi menulis surat dan Bapak membaca koran.

Berdasarkan sifat hubungannya.
1. Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang hubungan antara pola-pola kalimatnya sederajat. Kalimat majemuk setara terdiri atas:
(a) Kalimat majemuk setara menggabungkan. Biasanya menggunakan kata-kata tugas: dan, serta, lagipula, dan sebagainya.
Misalnya: Sisca anak yang baik lagi pula sangat pandai.
(b) Kalimat majemuk serta memilih. Biasanya memakai kata tugas: atau, baik, maupun.
Misalnya: Bapak minum teh atau Bapak makan nasi.
(c) Kalimat majemuk setara perlawanan. Biasanya memakai kata tugas: tetapi, melainkan.
Misalnya: Dia sangat rajin, tetapi adiknya sangat pemalas.
2. Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk yang terdiri dari perluasan kalimat tunggal, bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk kalimat baru yang disebut anak kalimat. Sedangkan kalimat asal (bagian tetap) disebut induk kalimat. Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal adanya:
(a) Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat penggati subjek.
Misalnya: Diakuinya hal itu
P S
Diakuinya bahwa ia yang memukul anak itu. anak kalimat pengganti subjek
(b) Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti predikat.
Misalnya: Katanyabegitu
Katanya bahwa ia tidak sengaja menjatuhkan gelas
itu. anak kalimat pengganti predikat
(c) Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti objek.
Misalnya: Mereka sudah mengetahui hal itu.
S P O
Mereka sudah mengetahui bahwa saya yang mengambilnya. anak kalimat pengganti objek.
(d) Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti keterangan.
Misalnya: Ayah pulang malam hari
S P K
Ayah pulang ketika kami makan malam. anak kalimat pengganti keterangan.
(3) Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk hasil perluasan atau hasil gabungan beberapa kalimat tunggal yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga pola kalimat.
Misalnya: Ketika ia duduk minum-minum, datang seorang pemuda berpakaian bagus, dan menggunakan kendaraan roda empat.
Ketika ia duduk minum-minum
pola atasan
datang seorang pemuda berpakaian bagus
pola bawahan I
datang menggunakan kendaraan roda empat
pola bawahan II
3.  Kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a) Kalimat inti
Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus menjadi inti kalimat.
Ciri-ciri kalimat inti:
(1) Hanya terdiri atas dua kata
(2) Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat
(3) Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat
(4) Intonasinya adalah intonasi ”berita yang netral”. Artinya: tidak boleh menyebabkan perubahan atau pergeseran makna laksikalnya..
b) Kalimat luas
Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata, tetapi lebih.
c) Kalimat transformasi
Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat syarat di atas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu kalimat luas.
Contoh kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
(1) Kalimat Inti. Contoh: Adik menangis.
(2) Kalimat Luas. Contoh: Puji, Ayu,Syifa,Dila sedang belajar dengan serius, sewaktu pelajaran akuntansi.
(3) Kalimat transformasi. Contoh:
i) Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi.
ii) Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis dan merengek kepada ayah untuk dibelikan komputer.
iii) Dengan perubahan kata urut kata. Contoh: Menangis adik.
iv) Dengan perubahan intonasi. Contoh: Adik menangis?
4. Kalimat Mayor dan Minor
a) Kalimat mayor
Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh: Amir mengambil buku itu.
Arif ada di laboratorium.
Kiki pergi ke Bandung.
Ibu segera pergi ke rumah sakit menengok paman, tetapi ayah menunggu kami di rumah Rati karena kami masih berada di sekolah.
b) Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
Contoh: Diam!, Sudah siap?, Pergi!, Yang baru!
5.  Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan tepat.
Jelas : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.
6.  Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.
Misal: Amara pergi ke sekolah, lantas amara pergi ke rumah temannya untuk belajar. (tidak Efektif/Tidak Efisien)
Amara pergi ke sekolah, lantas kerumah temannya untuk belajar. (Efektif/Efisien).